Dalam melaksanakan pembelajaran PKn di Sekolah Dasar,
guru perlu mengembangkan startegi/taktik yang tepat, dengan
pendekatan-pendekatan dan mode-model belajar yang akan diterapkan serta
didukung oleh metode dan media yang efektif. Hal ini akan membantu guru dalam
memahami dan membantu siswa untuk berlatih mengamalkan nilai moral Pancasila
dan budi pekerti yang dipelajari di sekolah. Dari sekian banyak pendekatan dan
model serta metode pembelajaran, perlu dipilih beberapa pendekatan
dan model pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat
perkembangan siswa Sekolah Dasar (SD) serta sifat tujuan yang ingin dicapai
dari proses pembelajaran PKn di SD.
Pendekatan dalam pembelajaran PKn pada prinsipnya lebih mengarah kepada
pengembangan kurikulum atau pengorganisasian isi materi pelajaran. Ada delapan
pendekatan, yang menurut Douglas Suparka (dalam Martorella, 1996) dapat
digunakan dalam pembelajaran PKn, yaitu:
1. Evokasi (kesempatan), pendekatan ini menekankan pada
inisiatif siswa untuk mengekspresikan dirinya secara spontan yang didasarkan
pada kebebasan dan kesempatan. Pendekatan ini sering dihadapkan pada kendala
kultural dan psikologikal, terutama pada masyarakat yang masih eksklusif.
2. Inkulkasi (menanamkan), pendekatan ini didasarkan pada
sejumlah pertanyaan nilai yang telah tersusun oleh guru. Tujuannya untuk
mempengaruhi dan mengarahkan siswa pada simpulan nilai yang sudah
direncanakan.
3. Kesadaran, adalah bagaimana mengungkap dan membina
kesadaran siswa tentang nilai-nilai tertentu yang ada pada dirinya atau orang
lain. Kesadaran iktu akan tumbuh menajdi sesuatu yang menumbuhkan kesadaran
tentang nilai atau seperangkat nilai tertentu.
4. Penalaran moral, dimana siswa dilibatkan dalam dilema
moral sehingga keputusan yang diambil terhadap dilema moral harus dapat
diberikan alasan-alasan moral yang rasional.
5. Analisis Nilai, suatu pendekatan yang mengajak siswa untuk
mengkaji dan menganalisis nilai yang ada pada suartu media stimulus yang telah
disiapkan guru dalam pembelajaran PKn.
6. Pengungkapan nilai, adalah upaya meningkatkan
kesadaran diri (self awareness) dan memperhatikan diri sendiri, bukan
pemecahan masalah. Pendekatan ini membantu siswa untuk menemukan dan memeriksa
nilai mereka untuk menemukan keberartian dan rasa aman.
7. Komitmen, mengarahkan dan menekankan pada seperangkat
nilai yang akan mendasari pola piker setiap guru yang bertanggung jawab. Terhadap
pendidikan nilai dan moral. Dalam PKn yang menjadi komitmen dasarnya adalah
nilai dan moral Pancasila dan UUD 1945.
8. Memadukan, menyatukan diri siswa dengan pengalaman dalam
kehidupan riil yang dirancang oleh guru dalam proses pembelajaran. Proses
menyatukan ini dimaksudkan agar siswa benar-benar mengalami secara langsung
pengalaman-pengalaman yang dirancang oleh guru memlaui berbagai metode yang
sesuai, seperti: metode partisipatori, simulasi, sosiodrama, studi proyek.
Sebagai pendidikan nilai, dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn) dituntut untuk:
1. Lebih mengenali dan memahami nilai-nilai inti pribadi dan
masyarakat
2. Ber-inkuiri (filosofis dan rasional) terhadap nilai-nilai
tersebut
3. Mencoba dan menumbuhkan respon afektif dan emotif terhadap
nilai-nilai tersebut
4. Membuat putusan tentang tindakan yang paling tepat atas
dasar inkuiri dan respon.
Guru perlu mempertimbangkan startegi yang tepat dalam pembelajaran PKn, dari
beberapa pendekatan dan model yang akan diterapkan. Hal ini akan membantu guru
dalam memahami Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dan sekaligus membantu siswa
untuk mengamalkan nilai moral Pancasila dan budi pekerti yang luhur, yang
dipelajari di sekolah. Dari beberapa pendekatan dan model pembelajaran perlu
dipilih yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan siswa, sehingga
proses pembelajaran lebih bermakna.
Untuk menjembatani pemahaman tentang hubungan antara perasaan (feeling),
pemikiran (though), dan tindakan (action) moralitas seseorang, perlu
dikembangkan model pendidikan moral yang efektif. Semua model pembelajaran
PKn biasanya mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung dengan
proses yang terpisah antara caring, judging dan acting. Pemahaman secara umum
terhadap ketiga proses tersebut (caring, judging, acting) akan membantu seorang
guru dalam memahami model belajar secara efektif, yaitu:
1. Caring (perhatian), adalah istilah yang menunjukkan perilaku seseorang untuk
menolong atau memperhatikan orang lain. Seseorang yang terdorong untuk
membantu, memperhatikan dan memikirkan orang lain berarti juga
memperhatikan kebutuhan atau minat atau perhatian orang lain yang membangkitkan
kepedulian terhadap orang lian. Istilah itu juga mengandung suatu tingkat
pemahaman social dan psikologikal tertentu. Memperhatikan dengan menolong orang
lain yang dodorong oleh suatu tingkat perasaan tertentu sebenarnya tidak cukup
dengan hanya merasakan kebutuhannya, akan tetapi hal itu juga menyangkut
nkemampuan untuk mengetahuidan menyimpulkan kebutuhan dan minat orang lain.
2. Judging (Pertimbangan), adalah proses menilai dan mempertimbangkan yang
tidak lepas dari nalar ( reasoning) walaupun antara keduanya harus dapat
dibedakan. Dengan penalaran (reason though) atau pertimbangan (judge) sebuah
moral sering menempatkan kesejahteraan orang lain menjadi taruhannya. Memang
harus mempertimbangkan berbagai pihak yang terlibat dalam keputusan /penalaran
kita. Misalnya “membunuh seseorang demi kepentingan negara” memerlukan
kemampuan untuk membuat keputusan di antara berbagai bayangan tentang “baik”
dengan penafsiran tandingan dengan yang“benar”. Dalam membandingkan antara
caring dan judging itu seseorang akan diahadapkan pada pertimbangan nilai
(value judgment ) yang mengandung alasan (reasoning). Namun sesuai dengan
sifatnya, alasan tidak dapat diterapkan dalam satu kasus tertentu. Seperti
pendapat yang menyatakan bahwa “ membunuh orang adalah salah” tetapi bagaimana
halnya dengan “membunuh untuk membela diri”. Oleh karena itu pertimbangan moral
memerlukan kemampuan untuk menilai minat yang saling bertentangan berdasarkan
dasar/prinsip dan criteria yang konstan.
3. Acting ( tindakan ), adalah bukanlah sesuatu yang bersifat moral atau
immoral, di luar dari motivasi atau pertimbangan seseorang atau tindakan
tidak memiliki status moral. Apa yang membuat tindakan sebagai moral
adalah kualitas perhatian/ pertimbangan yang yang memandunya. Kerapihan,
kebersihan dan kejujuran sering dianggap sebagai moral. Tetapi yang menjadi
masalahnya adalah alas an-alsan yang melatarbelakangi mengapa kita
melakukannya. Yang penting pada dasarnya adalah niat, bukan pamer supaya
mendapat pujian. Walaupun tindakan bukan sebuah kategori moral, tanpa
kesempatan untuk bertindak dan merefleksikan tindakan akan menghambat terjadinya
proses pengembangan moral. Yang penting bagi guru, pendidikan moral bukanlah
menyejajarkan antara peneyesuaian moral dengan moralitas, namun yang terpenting
adalah bagaimana membantu siswa untuk memiliki otonomi moral.
B. Model-Model Pembelajaran PKn SD
Dengan memahami ketiga proses (caring, judging, dan acting)
akan membantu pemahaman umum kita tentang perspektif masing-masing model
pendidikan moral. Model-model pembelajaran moral tersebut antara lain sebagai
berikut:
a. rasional building, model pendekatan rasional memberikan perkembangan
intelektual, di balik
program kurikulum dalam menganalisis isu-isu masyarakat.
b. consideration, yaitu memasukkan tiga bagian urutan proses materi yang
disampaikan
c. value clarification, model pengungkapan nilai untuk mengetahui secara
mendalam sikap dan niali siswa.
d. value analysis, model analisis nilai merupakan sebuah prosedur sistimatik
dalam konflik nilai.
e. cognitive moral development, model pengembangan kognitif membentuk dasar
dalam pengembangan moral
f. social action, yang merefleksikan teori dan praktek tentang program-program
pendidikan yang berorientasi pada masyarakat yang ditujukan pada upaya
membentuk keefektifan warga Negara.
Ke enam model ini dalam banyak hal memiliki hubungan yang kuat dengan ke
delapan pendekatan sebagaimana diutarakan Doglas Superka (dalam Martorella,
1996). Itu berarti bahwa keduanya, baik pendekatan maupun model dapat
menjadi dasar bagi strategi pembelajaran PKn di Sekolah Dasar.
C. Metode Pembelajaran PKn SD
Metode merupakan salah satu komponen pembelajaran yang cukup berperanan selain
komponen-komponen yang lain. Kegiatan pembelajaran yang berkualitas tentu akan
mempertimbangkan penerapan metode-metode pembelajaran secara bervariasi sesuai
dengan karakteristik materi pelajaran yang akan disampaikan.
Penerapan variasi metode bisa menunjang kegiatan
pembelajaran yang aktif dan inovatif serta menyenangkan karena tidak monoton
dan menjemukan siswa. Oleh karena itu, hendaknya guru mampu memilih
dan menentukan metode pembelajaran yang paling efektif dan efisien dalam
pencapaian tujuan pembelajaran. Perlu disadari bahwa tidak ada satupun metode
yang sempurna dan efektif serta efisien untuk semua topik kajian.
Masing-masing metode memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing, oleh
karena itu dalam setiap proses pembelajaran IPS diperlukan penerapan
metode yang bervariasi.
Macam-macam metode pembelajaran dalam IPS menurut Azis Wahab
(1997: 186 ) antara lain sebagai berikut:
1. Metode ceramah
2. Metode Tanya jawab.
3. Metode diskusi
4. Metode pemecahan masalah (problem solving)
5. Metode simulasi
6. Metode bermain peran (role playing)
7. Metode sosio drama
8. Metode permainan (game)
9. Metode cerita
10. Metode karya wisata atau studi lapangan
11. Metode inkuiri
12.Metode penugasan
13. Metode pameran (eksposisi)
14. Metode proyek
Pemilihan dan penerapan metode pembelajaran perlu
mempertimbangkan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Sesuai dengan karakteristik bahan ajar yang akan disampaikan.
2. Ditunjang oleh sarana dan prasarana yang memadai.
3. Sesuai dengan latar belakang dan kebutuhan siswa.
D. Media Pembelajaran PKn SD
Setiap media pembelajaran memiliki karakteristik dan keunggulan masing-masing
maka diharapkan guru dapat memilih dan menentukan macam-macam media sesuai
dengan topik bahasan dan karakteristik materi pelajaran. Agar pemilihan dan
penentuan media tersebut bisa efektif, maka perlu mempertimbangkan beberapa
kriteria, antara lain:
1. Obyektifitas.
Dalam memilih media perlu meminta
saran atau pendapat dari teman sejawat,
bukan berdasar kesenangan pribadi guru.
2. Program pembelajaran
Penentuan media bisa menunjang pencapaian tujuan program
pembelajaran atau
sesuai dengan pokok bahasan yang akan disampaikan.
3. Sasaran program
Sasaran program ini adalah siswa yang mengikuti proses
pembelajaran, pada usia
tertentu mereka memiliki kemampuan intelektual
tertentu pula.
4. Situasi dan kondisi
Situasi dan kondisi ini berkaitan dengan sarana dan
prasarana sekolah atau kelas
(ukuran ruangan, bangku, ventilasi dll ) dan situasi
kondisi siswa ( jumlah siswa,
motivasi, dll )
5. Kualitas teknik.
Kualiats teknik ini berkaitan kualitas gambar, rekaman audio
maupun visual suara,
atau alat Bantu lainnya.
6. Efektivitas dan efisiensi penggunaan.
Keefektifan menyangkut penyerapan informasi yang optimal
oleh siswa,
sedangkan efisiensi berkaitan dengan
pengeluaran tenaga, waktu dan biaya
seberapa mampu mencapai tujuan yang optimal.
Media pembelajaran memiliki ragam dan bentuk yang
bermacam-macam, namun berdasarkan perkembangannya, media dapat digolongkan
sebagai berikut:
1. Media yang bersifat umum dan tradisional.
Contohnya: papan tulis, buku teks, majalah, buku rujukan
dll.
2. Media yang bersifat canggih.
Contohnya: radio, TV, VCD, tape recorder, OHP, LCD, dll.
3. Media yang bersifat inovatif.
Contohnya: komputer, internet, laptop, dll.
Sedangkan jenis-jenis media pembelajaran yang bisa dimanfaatkan
dalam PKn SD dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1. Alat pengajaran.
Contohnya: papan tulis, papan pamer, mesin pengganda.
2. Media cetak.
Contohnya: Buku, majalah, surat kabar, jurnal, bulletin,
pamflet dll
3. Media visual.
Contohnya: Transfaransi, slid, grafik, chart, model dan
realia, gambar,foto, dll
4. Media audio.
Contohnya: Tape recorder, pita suara, piringan
hitam, dll
5. Media audio-visual
Contohnya: Televisi, VCD, film suara.
6. Masyarakat sebagai sumber belajar.
Contohnya: Nara sumber, tokoh masyarakat, dinamika
kehidupan dalam masyarakat.
Berbagai ragam dan jenis media di atas bisa dimanfaatkan dalam
pembelajaran PKn, sehingga guru bisa berkreasi dalam memanfaatkan
media pembelajaran agar mendorong siswa aktif, inovatif, dan kreatif agar
efektif dalam kegiatan pembelajaran yang menyenangkan. Pembelajaran PKn
di Sekolah Dasar selayaknya mengkondisikan siswa untuk berproses secara
individual, ada interaksi sosial, kerja dalam kelompok, untuk membangun makna dan
membentuk karakter serta perilaku dengan menyenangkan.